Soal CPNS

Monday, February 20, 2012

Perbedaan itu Indah!


Banyak hal yang pasti anda alami dalam kehidupan ini. Pahit-manis, sedih-senang, semuanya berpadu dalam kehidupan ini.

Begitulah kehidupan. Selalu berputar. Seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Namun begitu, dalam keadaan apapun kondisi kehidupan anda saat ini, jangan pernah berputus asa. Akan selalu ada jalan bagi orang yang mau berusaha.

Sebab kehidupan ini adalah suatu yang indah. Sebab itu, kehidupan ini wajib diperjuangkan dengan penuh Syukur dan cinta. Seperti yang disampaikan ibu guru Anne untuk menikmati perbedaan.



Perbedaan adalah anugrah dari
Yang Maha Kuasa!


Lihatlah sekeliling kita, indahnya
warna-warni bunga, warna-warni satwa,
dan segala keragaman lain yang
menghiasi dunia.

Bayangkan kalau kita hanya mengenal
warna hitam saja! Alangkah gelapnya
dunia ini! :-)

Tanpa adanya perbedaan dan warna-warni,
kita tidak akan merasakan hidup
semeriah dan seindah sekarang ini,
betul?! :-)

Begitu pun dengan kehidupan, setiap
insan selalu berhadapan dengan segala
macam perbedaan dan warna-warni
kehidupan.

Tapi sayang, tidak semua orang mampu
melihat perbedaan sebagai kekayaan.
Banyak orang merasa tersiksa karena
perbedaan alias mereka tidak mampu
menikmatinya.

Berbagai bentuk kejahatan dimulai hanya
karena perbedaan. Entah itu perbedaan
warna kulit, agama, suku bangsa,
prinsip, atau sekadar pendapat.

Sebenarnya, perbedaan bukanlah sesuatu
yang bisa dihindari. Setiap orang lahir
dengan perbedaan dan keunikannya
masing-masing. Mulai dari perbedaan
fisik, pola pikir, kesenangan, dan
lain-lain.

Tidaklah mungkin segala sesuatu hal sama.
Bahkan kesamaan pun sebenarnya tidak
selalu menguntungkan.

Coba bayangkan, seandainya semua orang
memiliki kemampuan memimpin, lantas
siapa yang mau dipimpin? Kalau semua
orang menjadi orang tua, siapa yang mau
jadi anak? Siapa juga yang akan
menerima sedekah, jika semua orang
ditakdirkan kaya?

Perbedaan ada bukan untuk dijadikan
alat perpecahan. Banyak hal positif
yang bisa kita peroleh dengan perbedaan.
Namun, tentu saja semua itu harus
bersyarat. Nah, syarat apa saja yang
harus dipenuhi?

Berikut di antaranya...
1. Cara pandang kita terhadap perbedaan.

Berpikirlah positif dengan mensyukuri
adanya perbedaan. Anggaplah perbedaan
sebagai kekayaan. Cara pandang yang
benar akan melahirkan sikap yang tepat.

Ada baiknya kita mencari persamaan
terlebih dahulu, sebelum mencari
perbedaan.

2. Kelola perbedaan sebaik mungkin.

Musyawarah untuk mencapai kesepakatan
adalah jalan yang tepat untuk mengelola
perbedaan.

Berlatihlah utk menghargai, menerima,
menjalankan dan bertanggungjawab
terhadap keputusan bersama, meski
berlawanan dengan ide awal kita.

3. Selalu posisikan segala sesuatu
pada tempatnya.

Saat bekerja sama dengan orang lain,
salurkan potensi, karakter, minat yang
berbeda-beda pada posisi 'yang tepat'.

Cara ini akan mendorong tercapainya
tujuan bersama dan mendukung
pengembangan potensi masing-masing
individu.

4. Jangan pernah meremehkan orang lain.

Apapun dan bagaimana pun kondisi atau
pendapat orang lain, perlakukan mereka
selayaknya diri kita ingin diperlakukan.

Anggaplah semua orang penting. Mereka
memiliki peran tersendiri, yg bisa jadi
tdk bisa digantikan oleh orang lain.

5. Jangan menonjolkan diri atau sombong.

Merasa diri paling penting dan lebih
baik daripada orang lain *tidak akan*
menambah nilai lebih bagi kita. Toh
kita tidak bisa hidup tanpa orang lain.

Jadilah beton dalam bangunan. Meski
tidak nampak, namun sesungguhnya ialah
yang menjadi penyangga kokohnya sebuah
bangunan. :-)

6. Cari sumber informasi yang terjamin
kebenarannya.


Perbedaan bisa muncul karena informasi
yang salah. Oleh sebab itu, pastikan
sumber informasi kita bisa terjamin dan
dapat dipercaya kebenarannya. Lebih
bagus lagi jika disertai bukti yang
mendukung.

7. Koreksi diri sendiri sebelum
menyalahkan orang lain.


Menyalahkan orang lain terus menerus
tidak akan banyak membantu kita. Bisa
jadi kesalahan sebenarnya terletak pada
diri kita. Karenanya, koreksi diri
sendiri terlebih dahulu merupakan
langkah yang paling bijaksana.

So, berhentilah menyesalkan perbedaan.
Karena jika tidak, kita akan
kehilangan sumber kebahagiaan! :-)

Monday, February 6, 2012

Tidak Ada Orang Menyepak Anjing Mati... Apa Maksudnya???


Pada tahun 1929 ada kejadian yang sempat menmbulkan sensasi nasional di lingkungan dunia pendidikan Amerika. Orang-orang terpelajar dan cerdik pandai dari seluruh kawasan Amerika bergegas, berduyun-duyun menuju Chicago untuk menyaksikan kejadian tersebut.

Beberapa tahun sebelumnya ada seorang pemuda bernama Robert Hutchins yang mengikuti kuliah di Universitas Yale sambil bekerja untuk membiayai hidupnya. Ia bekerja seadanya : sebagai pelayan restoran, penebang kayu, memberi les privat dan juga sebagai penjual pakaian.

Semua itu terjadi selama delapan tahun silam. Dan sekarang ia akan dilantik sebagai Rektor di Universitas Chicago, salah satu dari universitas terkaya di Amerika.

Usianya? Tiga puluh tahun. Bukan main! Rasanya tidak mungkin bisa terjadi! Para pendidik yang usianya lebih tua menggeleng-gelengkan kepala.

Kritik dilancarkan terhadap "pemuda mengagumkan" ini dari segala penjuru dan datangnya bertubi-tubi laksana bukit batu longsor. Ia begini, ia begitu. Terlalu muda, belum berpengalaman, masih ingusan! Ide-ide pendidikannya masih hijau. Bahkan surat kabarpun ikut menyerangnya.

Pada hari pelantikannya, salah seorang temannyamenemuai ayahnya, Robert Maynard Hutchins, dan berkata, "Saya terkejut ketika membaca surat kabar tadi pagi, Tajuk rencananya mencela anak Bapak." "Memang, itu kejam" Jawan Robert Maynard Hutchins. "Akan tetapi hendaknya Anda ingat bahwa tidak ada orang menyepak anjing mati."

Ya, memang itu betul. Semakin penting anjing itu, semakin puas orang menyepaknya.

Dari cerita diatas kita bisa ambil hikmah bahwa semakin tinggi kedudukan kita akan semakin tinggi tanggung jawab, godaan, kritikan dan gangguan. Namun yang perlu kita ingat bahwa setiap kritik cobaan dan gangguan yang tidak benar dan tidak pada tempatnya merupakan pujian yang tersembunyi yang bisa kita jadikan cermin tuk menjadi lebih baik. Semoga bermanfaat.... Amin.

Tuesday, January 10, 2012

OPTIMIS DALAM WAKTU SATU JAM

Dalam menjalani kehidupan ini kita pasti akan diarahkan pada berbagai macam perasaan yang muncul dalam diri kita, antara lain ada kebahagiaan, kesedihan, kesuksesan, keterurukan dan lain sebagainya. Dan kali ini saya berbagi tips untuk menghilangkan rasa sedih yang kita alami menjadi support bagi kita untuk melangkah labih baik kedepan, seperti cerita berikut ini :

Jika saya sedih karena keadaan yang sedang saya hadapi dalam waktu satu jam saya dapat menghapuskan kesedihan tersebut dan mengubah diri saya menjadi orang yang optimis.

Beginilah caranya, saya masuk ke dalam perpustakaan, menutup kedua mata dan berjalan menuju rak yang berisi buku-buku sejarah. Sementara mata masih tertutup, saya mengambil buku. Asal saja, saya tidak athu buku apa yang saya ambil, mungkin saja saya mengambil buku berjudul Conquest of Mexico, penakluk Mexico karangan Prescott, atau Live of the Twelve Caesars, Kehidupan Dua Belas Kaisar karangan Suetonius. Kemudian buku saya buka. Asal saja. Mata masihtertutup. Kemudian mata saya buka, dan buku langsung saya baca mulai dari halaman tersebut satu jam lamanya. Semakin jauh saya membaca, saya jadi semakin sadar bahwa dunia ini senantiasa berjalan terhuyung-huyung dipinggir tebing curam. Halaman-halaman buku sejarah dengan jelas mengutarakan cerita tentang peperangan , kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit dan sikap serta tindak manusia yang tidak berperikemanusiaan terhadap sesamanya. Setelah membaca satu jam lamanya, saya lalu jadi sadar bahwa betapa buruknya keadaan dunia ini, keadaan sekarang jauh lebih baik daripada keadaan jaman dahulu. Pengertian ini membuat saya mampu melihat dan menghadapi kesulitan-kesulitan saya saat ini. Kecuali itu, saya juga jadi mampu melihat kesulitan tersebut dari perspektif yang semestinya. Saya juga menyadari bahwa secara keseluruhan dunia ini terus menerus membaik.

Itulah metode yang bisa diuraikan. Bacalah sejarah! Berusahalah mendapatkan gambaran yang luas tentang dunia ini. Kemudian lihatlah : Betapa kecilnya kesulitan ANDA dibandingkan dengan kesulitan sepanjang jaman.” By. Roger W. Babson

Semoga Tips tersebut bisa membantu kita melangkah lebih baik kedepan… InsyaAlloh… Amin.

Tuesday, September 28, 2010

DAN KITAPUN MENJADI TUA.........

Hidup bagaikan garis lurus
Tak pernah kembali ke masa yang lalu
Hidup bukan bulatan bola
Yang tiada ujung dan tiada pangkal... .

Syair lagu diatas, sering kita dengar dari lantunannya Bimbo, liriknya
mengingatkan kita akan sebuah akhir. Kehidupan ini tidak akan berlangsung abadi, hingga suatu saat kita akan menaiki tangga usia, semakin lama usia kita bertambah, semakin berkuranglah sisa umur kita dan andai Tuhan belum memanggil kita di usia muda maka kitapun akan menjadi tua.

Melihat garis-garis di wajah sosok yang kita cintai ibu dan ayah kita,
ketika kulitnya mulai keriput, rambut hitamnya mulai memutih dan
kesehatannya kian menyusut, kita diingatkan oleh-Nya bahwa kitapun sama, suatu saat nanti akan menjadi tua, renta dan butuh begitu banyak
pertolongan, kasih sayang serta perhatian dari anak-anak kita.

Dan sekaranglah saatnya bagi kita untuk memainkan peran sebagai seorang
anak, memelihara dan menyayangi ayah dan ibu kita. Dahulu sembilan bulan kita dalam rahim ibu, kita menyusahkannya, duduk ia tak enak, berbaring tak nyaman. Tapi ibu sabar menanti hari-hari kelahiran kita. Tiba kita di dunia, ibu tersenyum bahagia mendapatkan kita sebagai anugerah dari Tuhan, disusuinya, dimanjakannya dan dibesarkannya kita dengan penuh kasih sayang.

Diajarkannya kita berbagai ilmu dan sebuah kenikmatan yang luar biasa bagi kita diajarkan untuk mengenal Allah sebagai Tuhan kita.

Menginjak remaja, kita semakin menyusahkannya, biaya sekolah yang kian
besar serta kenakalan-kenakalan yang sering kita lakukan tak jarang membuat hati ibu terluka. Sikap kita yang kasar, egois dan selalu merasa benar terkadang membuatnya menangis, tapi ibu tetap sabar. Dibimbingnya kita untuk memperbaiki sikap dan tingkah laku kita, ibu selalu menanamkan cinta kepada kita anak-anaknya.

Berbahagialah bagi yang masih mempunyai ibu juga ayah, karena masih
mempunyai kesempatan untuk memelihara dan menyayangi mereka. Dan saat kita menginjak dewasa, ketika ayah yang dulu kekar sekarang sering terbaring sakit, dan ketika ibu yang dulu selalu melayani kita makan sekarang sering terbaring lemah, inilah saat-saat yang baik bagi kita untuk memuliakan mereka, melayani, memelihara dan memberikan perhatian kepada mereka. Inilah kesempatan kita untuk menjadi anak yang shaleh buat mereka bahagia di ujung usianya, dan buat mereka bangga dengan kita.

Ingatkah, dahulu ketika kebetulan kita terbangun dari tidur, terlihat ibu sedang berdoa untuk kita, agar menjadi anak yang baik dan tercapai semua cita.

Jenguklah ibu dan ayah kita selagi bisa, sebelum semuanya berakhir menjadi kenangan, bawakan oleh-oleh yang disukainya. Sebab jika mereka telah tiada maka tak akan ada lagi yang menunggu kita pulang, tak ada lagi menyiapkan kita sarapan, yang ada hanyalah rumah yang akan menjadi kenangan.

"Muliakanlah Orang tua kita karena kitapun akan menjadi tua"

Mandikan Aku Bunda!?!


Sudahkan Kita Memenuhi Tanggung Jawab Kita sebagai Seorang Ibu yang Baik bagi Anak-Anak Tercinta Kita Dirumah?

oleh: Ayah Edy, penulis buku 'Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur, 37 Kebiasaan Orang Tua yang Menghasilkan Perilaku Buruk pada Anak'
Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not to be the best?,'' begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.
Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.
Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, "Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?" Dengan sigap Dewi menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna". "Everything is OK !, Don't worry Everything is under control kok !" begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.
Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. "Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda". Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian.
Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ''memahami'' orangtuanya.
Dengan Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya," Bunda aku ingin mandi sama bunda...please. ..please bunda", pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.
Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. "Bunda, mandikan aku !" Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja...?" kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.
Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, "Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency".
Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang... terlambat sudah...Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting.
Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku. Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata "Ini Bunda Nak...., Hari ini Bunda mandikan Bayu ya...sayang. ...! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak.." . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, "Inikan sudah takdir, ya kan..!" Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?". Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.
Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.
Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, "Inilah konsekuensi sebuah pilihan!" lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.
Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa di duga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. "Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak...? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya. Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.
Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris "Bangunlah Bayu sayaaangku.. ..Bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak.....?!?" pintanya berulang-ulang, "Bunda mau mandikan kamu sayang.... Tolong Beri kesempatan Bunda sekali saja Nak.... Sekali ini saja, Bayu.. anakku...?" Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu.
Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat manusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini...tapi apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada hanya sekedar memandikan seorang anak.
Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat dan penting dengan segala kesibukannya.

Pribadi To Do, To Have, atau To Be?


Menjalani hidup yang kian-lama kian tak terasa terlarut oleh waktu dan kesibukan kita tanpa sempat berfikir siapakah kita ini? apa yang kita lakukan? dan menjadi apa?
Perlu kiranya kita mengkaji, mungkin cerita dari teman ini dapat memberikan wacana buat pribadi kita, sebagai berikut :


"Kegembiraan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai. Oleh karenanya, kita membagikan cinta bagi orang lain." (Victor Hugo)

Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus Bertambah. Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya. Saat masuk fase dewasa, orang memasuki tiga tahapan kehidupan.

Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do). Ada saat memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have). Ada yang giat mencari makna hidup (to be). Celakanya, tidak semua orang mampu Melewati tiga tahapan proses itu.

Fase pertama, fase to do. Pada fase ini, orang masih produktif. Orang Bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting tulang, sampai mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan buah yang lebih baik. Ini sangat menyedihkan. Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan. Hal itu
tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat Dengan tali di sebuah tiang.

Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah bekerja banyak. Tapi, ternyata tidak produktif. Seorang kolega memutuskan keluar dari perusahaan. Ia mau membangun bisnis sendiri. Dengan gembira, ia mempromosikan bisnisnya. Kartu nama dan brosur disebar. Ia bertingkah sebagai orang sibuk.

Tapi, dua tahun berlalu, tapi bisnisnya belum menghasilkan apa-apa. Tentu, kondisi ini sangat memprihatinkan. Jay Abraham, pakar motivasi bidang keuangan dan marketing pernah berujar, "Banyak orang mengatakan berbisnis. Tapi, tidak ada hasil apa pun. Itu bukanlah bisnis." Marilah kita menengok hidup kita sendiri. Apakah kita hanya sibuk dan bekerja giat, tapi tanpa sadar kita tidak menghasilkan apa-Apa?

Fase kedua, fase to have. Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, Ada bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan Harta benda saja. Orang terobesesi mengumpulkan harta sebanyak-Banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia tidak mampu menikmati Kehidupan. Matanya telah tertutup materi Dan lupa memandangi berbagai keindahan Dan kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi Hidup yang sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini.. Dunia senantiasa mengundang Kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-Sentra perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa Kita untuk mengkonsumsi banyak barang.

Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah Orang yang mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering Membuat orang mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, Keluarga, kesehatan, maupun spiritual.

Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri Dan rasa Kepuasan diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi Pribadi yang merdeka.

Salah seorang direktur produksi membeberkan kejujuran Di balik kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang Memburuk. "Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang Betapa banyak air Mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa Bercerita tentang kesepian batin saya...," katanya.

Fase itu menjadi pembuktian jati diri Kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin Kita Haus. Akhirnya, Kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.

Fase ketiga, fase to be. Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja Dan Mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri Untuk menjadi pribadi yang semakin baik. Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena masa Kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusuri senja, IA sudah memiliki Semuanya. Ia ingin mesyukuri Dan memaknai semua itu dengan membuka Banyak klinik Dan posyandu di desa-desa miskin.

Fase ketiga inilah yang dinamakan memaknai hidup. Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga Seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa Untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati Pilihannya itu.

Fase ini merupakan fase Kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang Kita Miliki, melainkan apa yang bisa Kita berikan bagi orang lain.

Hidup Kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa Kita bagikan Bagi banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success To Significant mengatakan "Pertanyaan terpenting yang harus diajukan Bukanlah apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?"

Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, IA menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, IA memilih Memperjuangkan seturut nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi Kaum papa India.

Nah, di fase manakah hidup Kita sekarang? Marilah Kita terobsesi Bukan dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih Matang, lebih bermakna Dan berkontribusi!...

so what do u think ???...

(Fr. Mr. Ivan K)

Anda Tahu Saya Ini Siapa?"


Di masa sekarang ini seringkali kekuasaan seseorang yang sementara dijadikan sebagai alat untuk meraih keinginginan tanpa melihat hak-hak orang lain yang dilanggar, padahal kita semua tahu bahwa apa yang kita perbuat didunia akan kita pertanggung jawabkan nanti di akherat, seperti dalam tulisan teman kita ini yang bisa kita kaji, agar kita bisa lebih hati-hati dalam bertindak, berbuat dan bertingkah-laku di dunia, seperti cerita berikut ini :

— Kita tentu bersunguh-sunguh saat ada pejabat atau individu memanfaatkan ajudan-ajudannya untuk menerobos kemacetan, menutupi jalur jalan umum, meminta dispensasi, atau menyelak proses. Seketika, kita seolah-olah tidak punya hak yang sama untuk menggunakan fasilitas publik yang tersedia, harus mengalah dari orang yang punya “kuasa”.
Ini mungkin salah satu penyebab orang berlomba-lomba mengejar kekuasaan karena seakan-akan individu jadi punya “kesaktian” lebih untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Terkadang kita sendiri pun mencatut atau memakai nama atasan agar bisa mendapatkan informasi atau dukungan dari orang lain, bukan? Apakah benar yang kita amati bahwa begitu orang merasa kuat, ada kecenderungan dia “menginjak” kaki orang lain?

Saya pernah punya pengalaman berkesan saat suatu maskapai penerbangan membatalkan jadwal penerbangan. Penumpang yang ada pun kemudian berebut mendapatkan tempat di penerbangan maskapai lain. Semua orang punya kepentingan, semua orang berjuang untuk mendapatkan tempat yang terbatas. Tiba-tiba terdengar suara keras: ”Anda tahu saya ini siapa?” Semua orang pun menoleh mencari sumber suara tersebut sambil memasang muka bertanya-tanya, mengekspresikan ketidaktahuan. Ada seseorang di belakang, berbisik: ”Mungkin saja dia ngetop di TV atau di kantornya, tetapi di bandara tetap tidakngetop”.
Dalam situasi itu, petugas tiba-tiba menyodorkan boarding pass kepada seorang ibu yang membawa bayi dan neneknya. “Ini sudah prosedur kami, Pak,” ujar petugas tersebut menjawab komplain penguasa yang ingin didahulukan. Pada situasi seperti ini, petugas maskapailah yang paling berkuasa.
Ternyata dalam beberapa situasi, dengan uang sebanyak apa pun atau pangkat sebesar apa pun, individu tidak selalu mampu berbuat apa-apa. Pangkat, jabatan, dan wewenang memang salah satu sumber power bagi individu. Namun, kita bisa menilai sendiri, apakah pemanfaatan power yang berasal dari otoritas dan legitimasi ini bisa efektif setiap waktu? Bagaimana bila power itu dicopot dan terlepas dari individu? Bagaimana nasib tim yang dipimpin “tangan besi” ini sesudah si penguasa pergi?

Mengundang kemurahan hati
Seorang atasan memang memungkinkan dirinya memaksa bawahannya melakukan sesuatu, misalnya lembur untuk menyelesaikan pekerjaan. Meskipun si bawahan bisa saja tetap terlihat melakukan tugasnya, kita tidak tahu apakah ia menjalankan dengan keterlibatan 100 persen, 70 persen, atau hanya di bibir. Banyak sekali orang berduit yang juga merasa bisa “membeli kepala” orang lain, baik itu pegawai, vendor, maupun pemberi jasa. Dalam situasi ini pun, kita bertanya-tanya, apakah dengan keadaan setengah terpaksa, individu akan memberikan servis sepenuh hati kepada orang-orang yang "berkuasa" ini?
Kenyataannya, di dunia ini setiap individu punya pilihan. Pelanggan bisa lari ke toko sebelah, vendor bisa mengundurkan diri, karyawan bisa resign sesuai kemauannya, teman karib bisa ingkar, dan anggota tim pun bisa memisahkan diri.

Jim Collins, guru manajemen, dalam bukunya: Good to Great, mengungkapkan karakter model kepemimpinan baru yang ia sebut dengan the fifth-level leadership. Ia mengungkapkan, pada level tertinggi ini kepemimpinan didominasi oleh kerendahan hati dan kemauan keras. “...The CEOs of these remarkable companies were not aggressive, not self promoting, and not self congratulatory. This relatively unique class of leader possesses the ability to build enduring greatness through a paradoxical combination of personal humility plus professional will”.
Pemimpin tidak menggunakan kekuasaan secara otoriter, tetapi mengajak dan meminta dukungan partisipatif dari anggota tim. Kita bisa menyaksikan dalam berbagai situasi sulit, banyak individu atau anggota kelompok, yang dengan rela mengorbankan waktu dan spiritnya demi tercapainya tujuan dengan penuh kerelaan hati tanpa tekanan. “Saya lembur karena kita memang harus mengejar deadline. Bukan semata karena disuruh atasan. Keluarga memang dikorbankan, tetapi ini tidak terjadi setiap hari, kok,” demikian ungkap seorang karyawan. Bukankah situasi kepemimpinan seperti ini lebih indah dan menyenangkan daripada situasi penuh penekanan?

Apa pun posisi kita, sekalipun kita berada dalam situasi memberi nafkah, kita bisa belajar untuk mengundang kemurahan hati orang lain. Kita sebenarnya bisa mengganti mindset dengan berpikir bahwa kita sedang dikelilingi para volunteer. Kita bisa berlatih lebih banyak membuat request daripada memerintah. Kita perlu meyakini bahwa membangun hubungan penuh rasa percaya lebih powerful daripada membuat hierarki dan struktur politik. Secara otomatis, kerendahan hati justru menciptakan power dalam bentuk lain.

“Power” bisa mengembangkan jiwa
Tak jarang kita mendengar sikap pesimistis dan ungkapan tidak berdaya, misalnya “Kita belum merespons penawaran Anda karena atasan belum membacanya”, atau “Kalau formulir tidak lengkap, kita tidak bisa proses”.
Dengan pemahaman bahwa kuasa tidak selamanya identik dengan otoritas dan tekanan, kita sebetulnya akan bisa mengembangkan power-power baru dan menghindari sikap helplessness. Power modern bisa kita tumbuhkan dari kekuatan menjangkau informasi, kekuatan interpersonal, serta kekuatan menghantarkan jasa dan produk yang berkualitas. Bukankah kita percaya bahwa hubungan baik dan trust dari rekan kerja, bawahan, dan klien akan menumbuhkan spirit tim yang tidak terharga nilainya dan begitu besar kekuatannya. Ini semua tentu saja akan membuat kita bisa menumbuhkan rasa aman, kepercayaan diri, sekaligus memperkaya jiwa.
(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)

Thursday, November 12, 2009

SELAMAT DUNIA AKHIRAT

Alhamdulillah..... Bisa melaksanakan Sholat Jum'at dengan baik dari awal sampai akhir Di masjid Chandra Asri, Denpasar. Setiap hari iman manusia naik turun apalagi tinggal di daerah minoritas seperti di bali. Banyak sekali godaan sa'at kita mau melaksanakan ibadah, banyak sekali alasan yang muncul, yang jauh dari masjid-lah, masih lama waktu-a lah atau larut sama pekerjaan. Sehingga membuat lupa apa yang sudah menjadi kewajiban kepada sang pencipta. Kalo kita renungkan begitu banyak-a nikmat Alloh yang telah diberikan kepada kita namun kita lupa untuk mensyukuri-a.

Alloh menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepada-NYA. Namun untuk melaksanakannya kita sering mendapat godaan dan gangguan sehingga kita lupa untuk melaksanakan perintah-NYA.

Karena itulah, dalam menjalani hidup didunia kita tidak melupakan 2 hal yang perlu kita perhatikan dan laksanakan, yaitu :

1. Masalah Duniawi
Untuk masalah duniawi, hendaklah kita selalu melihat ke bawah dalam arti melihat orang yang kurang beruntung dari kita, sehingga kita akan selalu bersyukur dengan apa yang kita punya. InsyaAlloh, bila kita pandai bersyukur Alloh akan memberikan lebih dari apa yang kita harapkan. Melihat ke atas boleh, tapi sebagai semangat untuk menjadi lebih baik dengan berusaha di jalan Alloh.

2. Masalah Akhirat
Untuk masalah akhirat, hendaklah kita selalu melihat ke atas dalam arti melihat orang yang selalu ta'at beribadah, sehingga akan mendorong kita untuk berusaha bisa melaksanakan ibadah. Apalagi bisa melebihi orang yang kita lihat untuk masalah secara akhirat. Dan janganlah melihat ke bawah.

InsyaAlloh dengan melihat 2 hal tersebut kita bisa meraih kebahagiaan didunia dan akhirat.

Seperti yang disampaikan dalam khotbah jum'at hari ini bahwa kunci sukses adalah :

1. Iman
Selalu berada pada keimanan kepada Alloh, yang akan membuat kita selalu tegar dan kuat dalam menghadapi setiap cobaan dan godaan.

2. Ilmu Pengetahuan
Selalu berusaha menambah ilmu, dengan ilmu akan selalu bisa berfikir dan berusaha menyelesaikan masalah yang kita hadapi.

3. Sungguh-sungguh
Melaksanakan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan jujur, InsyaAlloh apa yang kita inginkan akan mudah kita capai. Amin.


LIBURAN I'DUL FITRI


Allohu akbar Allohu akbar Allohu akbar walillahilham.... Suara itu yang selalu berkumandang mulai terbit matahari hingga pagi.. Hari yang fitri telah datang setelah 1 bulan lamanya qita berpuasa. Pagi itu sehabis sholat subuh bersama istri, bersiap untuk ikut melaksanakan Sholat I'dul Fitri bersama mertua dan kakak-kakak ipar. Sholat I'd dilaksanakan dengan penuh hikmat dan tenang dan penuh kebahagian, para tetangga juga banyak yang ikut melaksanakan sholat di Masjid bersama. Sekitar 1 jam lamanya sholat I'd dilaksanakan, dengan ditutup Do'a oleh imam dan setelah itu qita saling bersalam-salaman.

Sepulang dari Masjid, seperti kebiasaan sebelumnya dirumah qita meminta ma'af kepada Kedua orang tua (Sungkem) mulai dari kakak ipar yang tertua sampai akhirnya istri dan saya, anak terakhir jadi sungkemnya paling bontot.. Dah gitu ke kakak dimulai dari yang paling tau.

Setelah saling mema'afkan dari anggota keluarga qita lanjutkan silaturrohim ke tetangga sekitar.


Setelah itu aq bersama istri dan kedua ponakan dari kakak ipar (Farrel n Jagat) pergi ke hiburan. Hampir sekitar 3 jam qita habiskan bermain-main bersama keponakan.
Ini lagi persiapan mau naikin keponakan, lucu kan!!!


( Farrel Action!!) (Jagat Action!!)

Hari itu bener-bener senang banget bisa membuat senang keponakan, lebih senang lagi kalo yang tak ajak itu anak sendiri... InsyaAlloh, Alloh SWT segera kasih yang terbaik. Yang pasti tetap berusaha, berdo'a dan pasrah Kepada Alloh SWT. Amin..